Model Pembelajaran
1.
CTL
(Contextual Teaching and Learning) oleh John Dewey
Mengkaitkan bahan
pelajaran dengan situasi di dunia nyata dengan menggunakan strategi Autentik,
Inkuiri, dan Praktek kerja.
Pendekatan kontektual (CTL) memiliki tujuahkomponen utama,
yaitu konstruktivisme (constructivism), menemukan (Inquiry),
bertanya(Questioning), masyarakat-belajar (Learning Community), pemodelan
(modeling), refleksi(reflection), dan penilaian yang sebenarnya (Authentic).
Adapaun penjelasannya sebagai berikut:
a.
Konstruktivisme
Kontruktivisme merupakan
landasan berpikir CTL,yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar
menghafal, mengingat pengetahuantetapi merupakan suatu proses belajar mengajar
dimana siswa sendiri aktif secara mentalmebangun pengetahuannya, yang dilandasi
oleh struktur pengetahuanyang dimilikinya.
b.
Menemukan
(Inquiry)
Menemukan merupakan bagaian inti dari
kegiatan
pembelajaran berbasis kontekstual Karen pengetahuan dan keterampilan yang
diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat
fakta-fakta tetapi hasil dari menemukan
sendiri. Kegiatanmenemukan (inquiry) merupakan sebuah siklus yang terdiri
dari observasi (observation), bertanya (questioning), mengajukan
dugaan (hiphotesis), pengumpulan data
(data gathering), penyimpulan (conclusion).
c.
Bertanya
(Questioning)
Pengetahuan yang
dimiliki seseorang selalu dimulai
dari bertanya. Bertanya merupakan strategi utama pembelajaan berbasis kontekstual. Kegiatan bertanya berguna untuk : 1) menggali informasi, 2) menggali pemahaman siswa, 3)membangkitkan
respon kepada siswa, 4) mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa,
5)mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa, 6) memfokuskan perhatian pada
sesuatuyang dikehendaki guru, 7) membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan
dari siswa, untukmenyegarkan kembali pengetahuan siswa.
d.
Masyarakat
Belajar (Learning Community)
Konsep masyarakat belajar
menyarankanhasil pembelajaran diperoleh dari hasil kerjasama dari orang lain.
Hasil belajar diperolah dari “sharing” antar teman, antar kelompok, dan antar yang tau
ke yang belum tau. Masyarakat belajar tejadi apabila
ada komunikasi dua arah, dua kelompok atau lebih
yang terlibat dalamkomunikasi pembelajaran saling belajar.
e.
Pemodelan (Modeling)
Pemodelan pada dasarnya
membahasakan yang dipikirkan,mendemonstrasi bagaimana guru menginginkan
siswanya untuk belajar dan malakukan apayang guru inginkan agar siswanya
melakukan. Dalam pembelajaran kontekstual, guru bukansatu-satunya model. Model
dapat dirancang dengan ,elibatkan siswa dan juga mendatangkandari luar.
f.
Refleksi (Reflection)
Refleksi merupakan cara berpikir atau respon
tentang apa yang barudipelajari aau berpikir kebelakang tentang apa yang sudah
dilakukan dimasa lalu.Realisasinya dalam pembelajaran, guru menyisakan waktu
sejenak agar siswa melakukanrefleksi yang berupa pernyataan langsung tentang
apa yang diperoleh hari itu.7.
g.
Penilaian yang sebenarnya
( Authentic Assessment)
Proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberi gambaran mengenai perkembangan belajarsiswa.
Dalam pembelajaran berbasis CTL, gambaran perkembangan belajar siswa
perludiketahui guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami pembelajaran
yang benar.Fokus penilaian adalah pada penyelesaian tugas yang relevan dan
kontekstual serta penilaiandilakukan terhadap proses maupun hasil.
Dengan menerapkan CTL tanpa disadari
pendidik telah mengikuti tiga prinsip ilmiah modernyang menunjang dan mengatur
segala sesuatu di alam semesta, yaitu:
·
Prinsip kesaling-bergantungan
Mengajarkan bahwa segala
sesuatu di alam semesta saling bergantung dan saling berhubungan. Dalam CTL prinsip kesaling-bergantungan mengajak para pendidik untuk mengenali keterkaitan mereka dengan pendidik lainnya, dengan siswa-siswa,
dengan masyarakat dan dengan lingkungan. Prinsip kesaling-bergantungan mengajaksiswa
untuk saling bekerjasama, saling mengutarakan pendapat, saling mendengarkan
untukmenemukan persoalan, merancang rencana, dan mencari pemecahan masalah.
Prinsipnyaadalah menyatukan pengalaman-pengalaman dari masing-masing individu
untuk mencapaistandar akademik yang tinggi.
·
Prinsip diferensiasi
Merujuk pada dorongan terus menerus dari alam semesta
untukmenghasilkan keragaman, perbedaan dan keunikan. Dalam CTL prinsip
diferensiasimembebaskan para siswa untuk menjelajahi bakat pribadi, memunculkan
cara belajarmasing-masing individu, berkembang dengan langkah mereka sendiri.
Disini para siswadiajak untuk selalu kreatif, berpikir kritis guna menghasilkan
sesuatu yang bermanfaat.
·
Prinsip pengaturan diri
Menyatakan bahwa segala
sesuatu diatur, dipertahankan dandisadari oleh diri sendiri. Prinsip ini
mengajak para siswa untuk mengeluarkan
seluruh potensinya. Mereka menerima tanggung jawab atas keputusan dan perilaku sendiri, menilaialternatif,
membuat pilihan, mengembangkan rencana, menganalisis informasi,
menciptakansolusi dan dengan kritis menilai bukti. Selanjutnya dengan interaksi
antar siswa akandiperoleh pengertian baru, pandangan baru sekaligus menemukan
minat pribadi, kekuatanimajinasi, kemampuan mereka dalam bertahan dan
keterbatasan kemampuan.
Kelebihan &
Kekurangan Contextual Teaching and Learning
Kelebihan
1.
Pembelajaran menjadi lebih bermakna dan riil.
Artinya siswa dituntut untuk dapatmenagkap hubungan antara pengalaman belajar
di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal inisangat penting, sebab dengan dapat
mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan
berfungsi secara fungsional, akantetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam
erat dalam memori siswa, sihingga tidak akanmudah dilupakan.2. Pembelajaran
lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswakarena
metode pembelajaran CTL menganut aliran konstruktivisme, dimana seorang
siswadituntun untuk menemukan pengetahuannya sendiri. Melalui landasan
filosofis konstruktivisme
siswa diharapkan belajar melalui ”mengalami” bukan ”menghafal”.
Kelemahan
1.
Guru lebih intensif dalam membimbing. Karena
dalam metode CTL. Guru
tidaklagi berperan sebagai pusat informasi. Tugas guru adalah mengelola kelas sebagai sebuah timyang
bekerja bersama untuk menemukan pengetahuan dan ketrampilan yang baru bagi
siswa.Siswa dipandang sebagai individu yang sedang berkembang. Kemampuan
belajar seseorangakan dipengaruhi oleh tingkat perkembangan dan keluasan
pengalaman yang dimilikinya. Dengan demikian, peran guru bukanlah sebagai
instruktur atau ” penguasa ” yang memaksa kehendak melainkan guru adalah pembimbing siswa agar
mereka dapat belajar sesuai dengantahap perkembangannya.
2.
Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk
menemukan atau menerapkan sendiriide – ide dan mengajak siswa agar
dengan menyadari dan dengan sadar menggunakan strategi – strategi
mereka sendiri untuk belajar. Namun dalam konteks ini tentunya guru
memerlukan perhatian dan bimbingan yang ekstra terhadap siswa
agar tujuan pembelajaran sesuai denganapa yang diterapkan semula.
2.
PAIKEM
Pada saat praktik mengajar di kelas ( pear teaching ), guru mengalami kesulitan dalam
menerapkan pembelajaran aktif. Padahal, dua atau tiga hari sebelumnya menerima materi
Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAIKEM). Memang,
tidak mudah merubah kebiasaan lama cara mengajar guru. Guru merupakan kunci
keberhasilan pendidikan. Cara mengajar guru sangat berpengaruh pada minat siswa (mencintai) belajar. Guru dituntut
menguasai materi pelajaran sekaligus terampil dalam menyampaikan
materi pada siswa. Tegasnya, guru harus menguasai ragam metode
pembelajaran aktif dan media pembelajaran baik visual, audio,
maupun audio-visual. PAIKEM menggantikan cara pembelajaran lama yang
didominasi oleh metode ceramah. PAIKEM berpusat pada siswa, sedangkan ceramah
berpusat pada guru. PAIKEM menempatkan siswa sebagai individu yang memiliki
pengetahuan dan mampu mencari sendiri pengetahuan baru dengan bimbingan guru. Siswa terlibat aktif dalam
proses pembelajaran mulai dari kegiatan pembuka, inti, hingga penutupan pembelajaran.
Dengan pemilihan metode yang tepat, semua siswa bisaterlibat dalam kegiatan
belajar-mengajar. Pembelajaran tidak bertumpu pada guru atau pada
siswa tertentu saja. Guru menghindari metode
ceramah dan metode lain yang tidak atau sedikit sekalimelibatkan siswa dalam
pembelajaran, karena akan menyebabkan kebosanan. Perasaan bosan menunjukkan bahwa cara mengajar guru tidak sesuai dan tidak menyenangkan.Guru terlalu dominan menyebabkan perhatian siswa
tidak fokus pada belajar.Inovatif dan kreatif artinya siswa diarahkan pada
penalaran, kritis, mengemukakanide, melahirkan karya sesederhana apa pun, dan
dilatih memecahkan masalah. Di kelas,harus tergambar rekam jejak karya siswa
dalam bentuk gambar, peta konsep, kerajinan tangan, dan lain sebagainya. Siswa selaiknya
diberikan kesempatan bertanya dan menuangkan gagasan. Siswa diminta juga mengenali permasalahan
dan didorong mencari solusinya. Dengan cara
ini siswa bisa berlatihmemecahkan masalah sesuai dengan tingkat pengetahuannya.
Efektif
maksudnya pembelajaran berlangsung
penuh makna. Paling dasar, iniditandai dengan tercapainya kompetensi dasar
serta indikator-indikatornya dalam setiap pembelajaran.Dalam konteks pengembangan karakter, pembelajaran
efektif berarti guru senantiasa menumbuhkan sikap-sikap positif terhadap siswa.
Siswa mempelajari nilai-nilai, kemudian dengan sadar menjadikannya sebagai
sikap yang terejawantah dalam hidupnya.Menyenangkan berarti siswa betah di
madrasah karena lingkungannya yang bersihdan kondusif, serta memiliki buku-buku
bacaan yang memadai. Siswa senang belajar dikelas, karena yakin akan
mendapatkan hal-hal baru setiap harinya, baik dari guru maupundari
teman-temannya. Kualitas toilet, ruang kelas, tempat olahraga, dan taman
madrasah harusmencerminkan lingkungan yang sehat. Untuk lingkungan madrasah
yang sehat dan bersih, tidak harus mahal, hanya perlu kedisiplinan dan komitmen pada kebersihan
terutama dari kepala madrasah (yang
menggerakkan bawahan). Aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan
tecermin dari praktik beberapa metode berikut ini.
1.
Short
card, information search, everyone is teacher, concept map dan seterusnya. Siswa
belajar tidak hanya dengan cara mendengarkan, tetapi terlibatlangsung sebagai
individu-individu yang bebas berkreasi dan berkarya tentu adakalanya dengan cara kerja tim.PAIKEM akan
berjalan baik jika guru pandai memanfaatkan media. Media pembelajaran tidak harus selalu mahal. Asal disiapkan dengan baik sebelum pembelajaran, penggunaan media yang sederhana akan membuat pembelajaran lebih
menyenangkan siswa. Pembelajaran juga akan
menyenangkan jika guru menguasai beberapa teknik icebreaking , karena siswa bukan robot. Siswa dengan segala masalahnya, di rumah danlingkungannya
memerlukan
pengkondisian agar raga dan jiwanya siap untuk belajar.Sekali lagi, guru perlu
belajar dan berlatih agar terampil menyampaikan icebreaking di hadapan siswadan harus diakui ini tidak mudah; sepertinya karena
initerkait dengan gaya pribadi guru yang sudah dibawanya sejak lahir (?).PAIKEM
tidak akan berhasil jika guru tidak memiliki kepribadian yang baik. Guruharus
memiliki selera humor, mau menerima kritik, menganggap siswa sebagai
pribadiyang potensial dan memiliki kelebihan-kelebihan yang unik, dan mau
belajar dari siapa pun (kemampuan mendengar dan memahami orang lain).Model Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang
wajib dibuat oleh gurusebenarnya berorientasi pada pembelajaran aktif. Seperti
termuat dalam kegiataneksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi (EEK) pada kegiatan
inti. Dalam EEK peran muriddominan dalam penggalian informasi terkait materi
belajar, sedangkan guru bertindak sebagai fasilitator. Namun dalam praktik di kelas, peran guru masih
sering lebihdominan.PAIKEM merupakan konsep sekaligus praktik mengajar yang
berpusat pada siswa.Melalui pembelajaran yang menyenangkan diharapkan siswa
menjadi pribadi yang cinta belajar. Belajar merupakan proses
yang menyenangkan sekaligus mencerahkan.Keterampilan
mengelola kelas yang menyenangkan membutuhkan praktik yang panjang. Ini
tidak mudah, karena bahkan pelatih PAIKEM sendiri kadang terjebak
padametode ceramah yang tak berkesudahan.
Akibatnya, peserta kehilangan fokus dan asyik dengan dunianya
sendiri-sendiri.
MEDIA PEMBELAJARAN
A. Pengertian Media Pembelajaran
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin mendorong upaya-upaya pembaharuan dalam pemanfaatan hasil-hasil teknologi dalam proses belajar mengajar. Para guru dituntut agar mampu menggunakan alat-alat yang dapat disediakan oleh sekolah, dan tidak tertutup kemungkinan bahwa alat-alat tersebut sesuai dengan perkembangan dan tuntutan zaman. Guru sekurang-kurangnya dapat menggunakan alat yang murah dan bersahaja tetapi merupakan keharusan dalam upaya mencapai tujuan pengajaran yang diharapkan.
Disamping mampu menggunakan alat-alat yang tersedia, guru juga dituntut untuk dapat mengembangkan alat-alat yang tersedia, guru juga dituntut untuk dapat mengembangkan keterampilan membuat media pengajaran yang akan digunakannya apabila media tersebut belum tersedia.
Untuk itu guru harus memiliki pengetahuan yang cukup tentang media pengajaran, yang meliputi (Hamalik, 1994 : 6)
• Media sebagai alat komunikasi guna lebih mengefektifkan proses belajar mengajar;
• Fungsi media dalam rangka mencapai tujuan pendidikan;
• Seluk-beluk proses belajar;
• Hubungan antara metode mengajar dan media pendidikan;
• Nilai atau manfaat media pendidikan dalam pengajaran;
• Pemilihan dan penggunaan media pendidikan
• Berbagai jenis alat dan teknik media pendidikan;
• Media pendidikan dalam setiap mata pelajaran;
• Usaha inovasi dalam media pendidikan.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa media adalah bagian yang tidak terpisahkan dari proses belajar mengajar demi tercapainya tujuan pendidikan pada umumnya dan tujuan pembelajaran di sekolah pada khususnya. Kata media berasal dari bahasa Latin medius yang secara harfiah berarti ‘tengah’, ‘perantara’ atau ‘pengantar’. Dalam bahasa Arab, media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Apabila media itu membawa pesan-pesan atau informasi yang bertujuan instruksional atau mengandung maksud-maksud pengajaran maka media itu disebut Media Pembelajaran.
B. Manfaat Media Dalam Pembelajaran
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin mendorong upaya-upaya pembaharuan dalam pemanfaatan hasil-hasil teknologi dalam proses belajar mengajar. Para guru dituntut agar mampu menggunakan alat-alat yang dapat disediakan oleh sekolah, dan tidak tertutup kemungkinan bahwa alat-alat tersebut sesuai dengan perkembangan dan tuntutan zaman. Guru sekurang-kurangnya dapat menggunakan alat yang murah dan bersahaja tetapi merupakan keharusan dalam upaya mencapai tujuan pengajaran yang diharapkan.
Disamping mampu menggunakan alat-alat yang tersedia, guru juga dituntut untuk dapat mengembangkan alat-alat yang tersedia, guru juga dituntut untuk dapat mengembangkan keterampilan membuat media pengajaran yang akan digunakannya apabila media tersebut belum tersedia.
Untuk itu guru harus memiliki pengetahuan yang cukup tentang media pengajaran, yang meliputi (Hamalik, 1994 : 6)
• Media sebagai alat komunikasi guna lebih mengefektifkan proses belajar mengajar;
• Fungsi media dalam rangka mencapai tujuan pendidikan;
• Seluk-beluk proses belajar;
• Hubungan antara metode mengajar dan media pendidikan;
• Nilai atau manfaat media pendidikan dalam pengajaran;
• Pemilihan dan penggunaan media pendidikan
• Berbagai jenis alat dan teknik media pendidikan;
• Media pendidikan dalam setiap mata pelajaran;
• Usaha inovasi dalam media pendidikan.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa media adalah bagian yang tidak terpisahkan dari proses belajar mengajar demi tercapainya tujuan pendidikan pada umumnya dan tujuan pembelajaran di sekolah pada khususnya. Kata media berasal dari bahasa Latin medius yang secara harfiah berarti ‘tengah’, ‘perantara’ atau ‘pengantar’. Dalam bahasa Arab, media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Apabila media itu membawa pesan-pesan atau informasi yang bertujuan instruksional atau mengandung maksud-maksud pengajaran maka media itu disebut Media Pembelajaran.
B. Manfaat Media Dalam Pembelajaran
Dalam suatu proses belajar mengajar, dua unsur yang sangat penting adalah metode mengajar dan media pengajaran. Kedua aspek ini saling berkaitan. Pemilihan salah satu metode mengajar tertentu akan mempengaruhi jenis media pengajaran yang sesuai, meskipun masih ada berbagai aspek lain yang harus diperhatikan dalam memilih media, antara lain tujuan pengajaran, jenis tugas dan respon yang diharapkan siswa kuasai setelah pengajaran berlangsung, dan konteks pembelajaran termasuk karakteristik siswa. Meskipun demikian, dapat dikatakan bahwa salah satu fungsi utama media pengajaran adalah sebagai alat bantu mengajar yang turut mempengaruhi iklim, kondisi, dan lingkungan belajar yang ditata dan diciptakan oleh guru.
Hamalik (1986) mengemukakan bahwa pemakaian media pengajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. Secara umum, manfaat media dalam proses pembelajaran adalah memperlancar interaksi antara guru dengan siswa sehingga pembelajaran akan lebih efektif dan efisien. Tetapi secara lebh khusus ada beberapa manfaat media yang lebih rinci Kemp dan Dayton (1985) misalnya, mengidentifikasi beberapa manfaat media dalam pembelajaran yaitu :
1. Penyampaian materi pelajaran dapat diseragamkan
2. Proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik
3. Proses pembelajaran menjadi lebih interaktif
4. Efisiensi dalam waktu dan tenaga
5. Meningkatkan kualitas hasil belajar siswa
6. Media memungkinkan proses belajar dapat dilakukan dimana saja
7. Media dapat menumbuhkan sikap positif siswa terhadap belajar dan prosesny
8. Merubah peran guru ke arah yang lebih positif dan produktif.
Selain beberapa manfaat media seperti yang dikemukakan oleh Kemp dan Dayton tersebut, tentu saja kita masih dapat menemukan banyak manfaat-manfaat praktis yang lain. Manfaat praktis media pembelajaran di dalam proses belajar mengajar sebagai berikut :
1.
Media pembelajaran dapat memperjelas
penyajian pesan dan informasi sehingga
dapat memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil belajar.
2.
Media pembelajaran dapat meningkatkan
dan mengarahkan perhatian anak sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar, interaksi
yang lebih langsung antara siswa dan lingkungannya, dan kemungkinan siswa untuk
belajar sendiri-sendiri sesuai dengan kemampuan dan minatnya
3.
Media pembelajaran dapat mengatasi
keterbatasan indera, ruang dan waktu.
4.
Media pembelajaran dapat memberikan
kesamaan pengalaman kepada siswa tentang peristiwa-peristiwa di lingkungan
mereka, serta memungkinkan terjadinya interaksi langsung dengan guru,
masyarakat, dan lingkungannya misalnya melalui karya wisata.
Kunjungan-kunjungan ke museum atau kebun binatang.
C.
Jenis-Jenis Media Pembelajaran
Media Pembelajaran banyak sekali jenis dan macamnya. Mulai yang paling kecil sederhana dan murah hingga media yang canggih dan mahal harganya. Ada media yang dapat dibuat oleh guru sendiri, ada media yang diproduksi pabrik. Ada media yang sudah tersedia di lingkungan yang langsung dapat kita manfaatkan, ada pula media yang secara khusus sengaja dirancang untuk keperluan pembelajaran. Meskipun media banyak ragamnya, namun kenyataannya tidak banyak jenis media yang biasa digunakan oleh guru di sekolah. Beberapa media yang paling akrab dan hampir semua sekolah memanfaatkan adalah media cetak (buku). selain itu banyak juga sekolah yang telah memanfaatkan jenis media lain gambar, model, dan Overhead Projector (OHP) dan obyek-obyek nyata. Sedangkan media lain seperti kaset audio, video, VCD, slide (film bingkai), program pembelajaran komputer masih jarang digunakan meskipun sebenarnya sudah tidak asing lagi bagi sebagian besar guru.
Anderson (1976) mengelompokkan
media menjadi 10 golongan sbb :
|
No
|
Golongan Media
|
Contoh dalam
Pembelajaran
|
|
I
|
Audio
|
Kaset
audio, siaran radio, CD, telepon
|
|
II
|
Cetak
|
Buku pelajaran, modul,
brosur, leaflet, gambar
|
|
III
|
Audio-cetak
|
Kaset audio yang
dilengkapi bahan tertulis
|
|
IV
|
Proyeksi visual diam
|
Overhead transparansi
(OHT), Film bingkai (slide)
|
|
V
|
Proyeksi Audio visual
diam
|
Film bingkai (slide)
bersuara
|
|
VI
|
Visual gerak
|
Film bisu
|
|
VII
|
|
Audio Visual gerak,
film gerak bersuara, video/VCD, televisi
|
|
VIII
|
Obyek fisik
|
Benda nyata, model,
specimen
|
|
IX
|
Manusia dan lingkungan
|
Guru, Pustakawan,
Laboran
|
|
X
|
Komputer
|
CAI (Pembelajaran
berbantuan komputer), CBI (Pembelajaran berbasis komputer).[7]
|
D. Pemilihan
Media Pembelajaran
Beberapa penyebab orang memilih media antara lain adalah : a. bermaksud mendemosntrasikannya seperti halnya pada kuliah tentang media; b. merasa sudah akrab dengan media tersebut, c. ingin memberi gambaran atau penjelasan yang lebih kongkrit; dan d. merasa bahwa media dapat berbuat lebih dari yang bisa dilakukannya. Jadi dasar pertimbangan untuk memilih media sangatlah sederhana, yaitu memenuhi kebutuhan atau mencapai tujuan yang diinginkan atau tidak. Mc. Connell (1974) mengatakan bila media itu sesuai pakailah “If The Medium Fits, Use It!”
Dari segi teori belajar, berbagai kondisi dan prinsip-prinsip psikologi yang perlu mendapat pertimbangan dalam pemilihan dan penggunaan media adalah sebagai berikut :
1. Motivasi
2. Perbedaanindividual
3. Tujuanpembelajaran
4. Organisasi isi
5. Persiapan sebelum belajar
6. Emosi
7. Partisipasi Umpan balik
8. Penguatan (reinforcement)
9. Latihan dan pengulangan
10. Latihan dan pengulangan
11. Penerapan.
Beberapa penyebab orang memilih media antara lain adalah : a. bermaksud mendemosntrasikannya seperti halnya pada kuliah tentang media; b. merasa sudah akrab dengan media tersebut, c. ingin memberi gambaran atau penjelasan yang lebih kongkrit; dan d. merasa bahwa media dapat berbuat lebih dari yang bisa dilakukannya. Jadi dasar pertimbangan untuk memilih media sangatlah sederhana, yaitu memenuhi kebutuhan atau mencapai tujuan yang diinginkan atau tidak. Mc. Connell (1974) mengatakan bila media itu sesuai pakailah “If The Medium Fits, Use It!”
Dari segi teori belajar, berbagai kondisi dan prinsip-prinsip psikologi yang perlu mendapat pertimbangan dalam pemilihan dan penggunaan media adalah sebagai berikut :
1. Motivasi
2. Perbedaanindividual
3. Tujuanpembelajaran
4. Organisasi isi
5. Persiapan sebelum belajar
6. Emosi
7. Partisipasi Umpan balik
8. Penguatan (reinforcement)
9. Latihan dan pengulangan
10. Latihan dan pengulangan
11. Penerapan.
Sumber : www.wikipedia.com